YOGYAKARTA, (gerbangbanten.com) — Penguatan sistem perkaderan menjadi salah satu agenda penting dalam membicarakan masa depan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di tengah berbagai dinamika organisasi dan perubahan sosial yang semakin kompleks, perkaderan tidak boleh kehilangan orientasinya sebagai ruang pembentukan insan cita yang memiliki kedalaman intelektual, integritas moral, dan tanggung jawab sosial.
Komitmen tersebut menjadi salah satu pokok pembicaraan dalam pertemuan Nur Ghina Muslimah, S.E., M.Ak., bersama Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Yogyakarta. Pertemuan ini menjadi ruang dialog sekaligus penguatan komitmen bersama untuk mendorong sistem perkaderan HMI yang lebih berkualitas, independen, adaptif, dan berorientasi pada pengembangan kapasitas kader.
Dalam kesempatan tersebut, Nur Ghina menegaskan bahwa persoalan perkaderan HMI hari ini bukan terletak pada ketiadaan sistem atau jenjang pengaderan. HMI telah memiliki struktur perkaderan yang relatif matang, mulai dari LK I, LK II, LK III hingga Senior Course. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan setiap proses perkaderan tetap memiliki bobot intelektual dan substansi pembentukan karakter yang kuat.
“Struktur perkaderan HMI tidak rusak. Yang perlu kita periksa adalah bobot isinya. Jangan sampai energi organisasi terlalu banyak terserap dalam urusan kontestasi, sementara tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan menguji gagasan justru semakin kehilangan ruang,” ungkap Nur Ghina.
Menurutnya, BPL harus diperkuat sebagai institusi strategis yang memiliki kemandirian dalam menjaga kualitas dan arah perkaderan. Hal tersebut perlu diwujudkan melalui penguatan standar instruktur, sistem evaluasi yang terbuka, serta pelaksanaan latihan yang tidak terintervensi oleh kepentingan politik praktis maupun agenda kontestasi organisasi.
Lebih jauh, Nur Ghina juga mendorong modernisasi perkaderan melalui pemanfaatan teknologi. Modernisasi tersebut bukan sekadar memindahkan proses pembelajaran ke ruang digital, melainkan membangun sistem perkaderan yang mampu menjamin kesetaraan akses, memperkuat literasi digital, dan mendokumentasikan perkembangan kader melalui portofolio karya.
Komitmen ini sejalan dengan gagasan LeadHER: *Leading by Listening, Growing by Values*, yang menempatkan proses mendengarkan kebutuhan kader sebagai fondasi dalam merumuskan kebijakan organisasi. Dalam konteks perkaderan, mendengarkan berarti membuka ruang bagi instruktur, pengelola latihan, dan kader untuk menyampaikan pengalaman, kritik, serta kebutuhan pengembangan kapasitas mereka.
Pertemuan bersama BPL HMI Cabang Yogyakarta juga dirangkai dengan podcast sebagai ruang percakapan terbuka mengenai tantangan dan masa depan perkaderan HMI. Melalui forum ini, berbagai persoalan perkaderan diharapkan dapat dibicarakan secara lebih kritis, mulai dari independensi BPL, kualitas instruktur, relevansi materi latihan, hingga kebutuhan membangun tradisi intelektual yang lebih kuat di lingkungan HMI.
Bagi Nur Ghina, perkaderan ideal tidak boleh berhenti pada keberhasilan menyelenggarakan latihan atau menghasilkan peserta yang memperoleh sertifikat. Keberhasilannya harus terlihat dari lahirnya kader yang mampu berpikir mandiri, menghasilkan karya, mengembangkan riset, serta mengambil peran nyata dalam menjawab persoalan masyarakat.
“Perkaderan harus melahirkan kader yang menjadi subjek perubahan, bukan sekadar objek yang dibentuk untuk kepentingan tertentu. Kita membutuhkan kader yang memiliki keberanian berpikir, kemerdekaan bersikap, dan kemampuan mempertanggungjawabkan gagasannya,” tegasnya.
Melalui dialog dan komitmen bersama ini, diharapkan BPL HMI semakin diperkuat sebagai ruang strategis pengembangan sumber daya manusia HMI. Sebab, masa depan organisasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menduduki jabatan struktural, tetapi terutama oleh kualitas manusia yang dilahirkan melalui proses perkaderannya.
Menguatkan HMI berarti menguatkan perkaderannya. Dan menguatkan perkaderan berarti memastikan setiap kader memiliki ruang untuk berpikir, bertumbuh, dan berkontribusi tanpa kehilangan independensinya.






