Dillo Aprillio Sitepu, Paskibraka Muda Kota Serang yang Menempa Diri Lewat Disiplin dan Perjuangan

SERANG ,gerbangbanten.com- Menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bukan sekadar tentang berdiri tegap di lapangan dan menjalankan tugas dalam upacara kenegaraan. Di balik seragam dan langkah tegap itu, ada proses panjang yang menuntut kedisiplinan, ketahanan mental, tanggung jawab, serta semangat pantang menyerah.

Hal tersebut dirasakan langsung oleh Dillo Aprillio Sitepu, siswa berusia 16 tahun dari SMAN 2 Kota Serang, yang terpilih menjadi anggota Paskibraka Kota Serang untuk menjalankan tugas pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.

Dillo dipercaya menjalankan tugas sebagai penjuru, sebuah posisi yang membutuhkan konsentrasi, ketepatan gerakan, disiplin, dan kemampuan menjaga kekompakan selama pelaksanaan upacara.

Bagi Dillo, perjalanan menjadi Paskibraka tidak datang secara instan. Ada proses seleksi yang harus dilewati dengan perjuangan dan ketahanan fisik maupun mental.

Ia mengakui, proses seleksi menjadi salah satu pengalaman yang paling menantang dalam perjalanan dirinya.

«“Sangat menantang dan melelahkan. Saya kira saya tidak lolos, tetapi saya belajar untuk disiplin, percaya diri, dan tidak mudah menyerah,” ujar Dillo.»

Pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi dirinya. Ia menyadari bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik, tetapi juga oleh keberanian untuk percaya kepada diri sendiri dan terus berusaha ketika menghadapi tekanan.

Tiga Bulan Latihan, Membentuk Karakter

Setelah dinyatakan lolos, perjalanan Dillo belum selesai. Ia harus menjalani latihan selama kurang lebih tiga bulan.

Masa latihan tersebut menjadi fase penting untuk membentuk kesiapan fisik, mental, kedisiplinan, sekaligus kekompakan antarsesama anggota Paskibraka.

“Latihannya tiga bulan, lumayan lama dan bikin melelahkan, tetapi menyenangkan karena bisa berlatih bersama teman sehingga tidak membosankan,” katanya.

Menurut Dillo, kebersamaan menjadi salah satu kekuatan selama menjalani proses latihan. Rasa lelah yang muncul setelah menjalani latihan panjang dapat teratasi karena ia tidak menjalaninya sendirian.

Teman teman seperjuangan menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Asrama dan Cerita yang Tak Terlupakan

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Dillo adalah ketika menjalani kehidupan di asrama bersama anggota Paskibraka lainnya.

Hidup di asrama membuat dirinya belajar lebih mandiri. Ia tidak hanya dituntut mengikuti aturan, tetapi juga harus mampu mengatur diri, menjaga sikap, menghargai waktu, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

“Super seru. Hal yang paling bakal dikenang adalah ketika masa asrama. Saya belajar mandiri, disiplin, serta tanggung jawab,” tuturnya.

Di balik ketatnya aturan dan aktivitas yang padat, kehidupan asrama juga menghadirkan cerita kebersamaan yang akan menjadi kenangan tersendiri.

Dillo bercerita, kebersamaan bersama teman seperjuangan terkadang diwarnai canda dan tawa. Namun, ketika candaan dianggap berlebihan, konsekuensinya adalah mendapatkan hukuman dari senior.

“Yang bikin serunya adalah bersama teman seperjuangan. Ada masanya kita bercanda hingga dihukum senior karena berlebihan,” ujarnya sambil mengenang masa tersebut.

Bagi Dillo, pengalaman itu bukan sekadar cerita lucu. Ia melihatnya sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk memahami batasan, menaati aturan, dan belajar bertanggung jawab atas tindakan sendiri.

Dari Paskibraka Menuju Cita-Cita Besar

Di luar kesibukannya sebagai pelajar dan anggota Paskibraka, Dillo memiliki cita-cita yang cukup tinggi.

Ia ingin melanjutkan pendidikan dan mengabdi melalui salah satu institusi negara, yakni AKPOL, AKMIL, IPDN, atau STAN.

Pilihan tersebut menggambarkan keinginannya untuk memiliki masa depan yang tidak hanya berorientasi pada keberhasilan pribadi, tetapi juga membuka kesempatan untuk memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Pengalaman menjadi Paskibraka menjadi salah satu bekal penting untuk mengejar cita-cita tersebut.

Disiplin, ketahanan mental, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, serta rasa tanggung jawab yang diperoleh selama mengikuti proses Paskibraka menjadi nilai yang diyakini Dillo akan berguna dalam perjalanan pendidikannya ke depan.

Membawa Nama Sekolah dan Keluarga

Menjadi Paskibraka Kota Serang juga membawa tanggung jawab moral bagi Dillo. Ia menyadari bahwa dirinya tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga nama sekolah dan keluarga.

Karena itu, ia ingin menjalankan amanah tersebut sebaik mungkin.

“Semoga saya bisa mengemban semua ini dengan baik, menjaga nama baik sekolah dan keluarga, serta memberikan yang terbaik untuk Kota Serang dan Indonesia,” kata Dillo.

Harapan tersebut menjadi penutup dari perjalanan panjang yang telah ia lalui.

Dari seorang pelajar berusia 16 tahun, Dillo kini mendapat kesempatan berdiri di barisan Paskibraka Kota Serang pada momentum bersejarah HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Perjalanannya menunjukkan bahwa di balik sebuah penghormatan di lapangan upacara, terdapat proses panjang yang membentuk karakter seorang generasi muda.

Bagi Dillo, Paskibraka bukan hanya tentang mengibarkan bendera Merah Putih. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi ruang untuk belajar tentang disiplin, perjuangan, persahabatan, tanggung jawab, dan keberanian mengejar cita-cita.

Langkah tegapnya pada 17 Agustus 2026 kelak bukan sekadar gerakan baris-berbaris. Di dalamnya terdapat cerita tentang seorang anak muda yang berusaha menempa dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap menghadapi masa depan.

Pos terkait