Ketika AI Menjadi Guru, Apa Peran Guru PAI?


Oleh: Selvy Yuspitasari

OPINI, (gerbangbanten.com) – Pada saat mengajar, seorang guru meminta peserta didiknya menjelaskan makna amanah. Tanpa membuka buku, seorang siswa segera mengeluarkan telepon genggamnya, lalu mengetikkan sebuah pertanyaan pada aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI). Dalam hitungan detik, muncul jawaban yang runtut dan meyakinkan. Sang siswa membacanya dengan percaya diri. Namun, ketika guru bertanya, “Jika kamu menemukan dompet temanmu di halaman sekolah dan tidak ada seorang pun yang melihat, apa yang akan kamu lakukan?”, kelas mendadak sunyi. AI mampu menjelaskan arti amanah, tetapi tidak dapat membentuk manusia menjadi pribadi yang amanah.

Ilustrasi tersebut menjadi potret kecil perubahan wajah pendidikan hari ini. AI telah mengubah cara peserta didik mencari informasi, memahami pelajaran bahkan menyelesaikan tugas. Teknologi yang dahulu hanya berfungsi sebagai pelengkap kini perlahan mengambil sebagian peran yang selama ini identik dengan guru. Laporan UNESCO (2024) bahkan menyebutkan bahwa kecerdasan buatan berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi penggunaannya harus tetap menempatkan guru sebagai pusat proses pendidikan, bukan menggantikannya. Pesan ini penting, sebab pendidikan bukan sekadar persoalan kecepatan memperoleh jawaban, melainkan proses membentuk manusia.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, muncul pertanyaan yang semakin relevan: jika AI mampu mengajar, masihkah Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dibutuhkan? Pertanyaan ini sesungguhnya berangkat dari cara pandang yang keliru tentang makna pendidikan. Banyak orang masih menganggap bahwa tugas guru hanyalah menyampaikan pengetahuan. Akibatnya, ketika teknologi mampu menjalankan fungsi tersebut dengan lebih cepat, muncul anggapan bahwa keberadaan guru akan tergeser.

Padahal, dalam khazanah pendidikan Islam, mengajar hanyalah salah satu bagian dari proses pendidikan. Para ulama membedakan antara ta’lim, tarbiyah dan ta’dib. Ta’lim berkaitan dengan penyampaian ilmu pengetahuan. Tarbiyah merupakan proses membimbing dan menumbuhkan seluruh potensi peserta didik. Adapun ta’dib berorientasi pada pembentukan adab, karakter dan tanggung jawab moral. Ketiga aspek ini saling melengkapi dan menjadi fondasi pendidikan Islam. AI mungkin mampu menjalankan fungsi ta’lim dengan sangat baik, tetapi ia tidak memiliki kemampuan untuk membimbing pertumbuhan jiwa ataupun menghadirkan keteladanan sebagai inti dari ta’dib.

Perspektif tersebut selaras dengan pesan Al-Qur’an. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. diawali dengan perintah, “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1). Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan manusia untuk membaca, tetapi menegaskan bahwa aktivitas membaca harus dilakukan bismi rabbik, yaitu dengan kesadaran akan Tuhan. Isyarat ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi tidak pernah dipisahkan dari dimensi etik dan spiritual. Kemajuan ilmu merupakan keniscayaan, tetapi kemajuan itu harus mengantarkan manusia semakin bertanggung jawab, bukan sekadar semakin cerdas.

Sehingga umat Islam tidak memiliki alasan untuk memusuhi AI. Teknologi adalah buah dari kemampuan berpikir yang juga merupakan anugerah Allah Swt. Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada kecanggihan AI, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Ketika peserta didik mulai terbiasa menerima setiap jawaban tanpa menguji kebenarannya, ketika tugas sekolah diselesaikan dengan menyalin hasil AI tanpa proses berpikir atau ketika kejujuran akademik dikorbankan demi kemudahan, maka yang sedang mengalami krisis bukanlah teknologi, melainkan pendidikan.

Di titik inilah Guru PAI menemukan relevansinya. Perannya bukan berlomba dengan AI dalam menyampaikan informasi, melainkan memastikan bahwa ilmu yang diperoleh peserta didik bertumbuh menjadi hikmah, karakter dan tanggung jawab. Karena tujuan pendidikan Islam bukan sekadar melahirkan generasi yang mengetahui banyak hal, tetapi generasi yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Al-Qur’an memberikan petunjuk bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana proses itu dijalankan. Allah Swt. berfirman, “Ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmah wal-mau’iẓatil-ḥasanah…” (QS. An-Nahl [16]: 125). Ayat ini memang berbicara tentang dakwah, tetapi nilai yang dikandungnya juga relevan bagi dunia pendidikan. Kata hikmah mengajarkan bahwa seorang pendidik tidak cukup menguasai materi, melainkan juga harus mampu memilih pendekatan yang tepat sesuai dengan perkembangan zaman dan karakter peserta didik. Dengan demikian, penggunaan AI dalam pembelajaran bukan sesuatu yang perlu ditolak, melainkan diarahkan agar menjadi sarana belajar yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah dimiliki oleh teknologi, yaitu keteladanan. Al-Qur’an menegaskan bahwa pada diri Rasulullah saw. terdapat uswah hasanah (QS. Al-Ahzab [33]: 21), sebuah teladan terbaik bagi umat manusia. Ayat ini mengingatkan bahwa pendidikan tidak berlangsung hanya melalui penjelasan, tetapi juga melalui contoh yang hidup dalam keseharian. Peserta didik belajar tentang kejujuran karena melihat gurunya bersikap jujur. Mereka memahami makna tanggung jawab karena menyaksikan gurunya menepati janji. Nilai-nilai seperti empati, kesabaran dan keikhlasan tumbuh melalui interaksi antarmanusia, bukan melalui algoritma.

Karena itu, tantangan Guru PAI di era AI bukanlah mempertahankan cara mengajar yang lama, melainkan meneguhkan kembali hakikat profesinya sebagai pendidik. Guru PAI perlu menguasai literasi digital, memahami cara kerja AI serta membimbing peserta didik agar mampu memanfaatkannya secara kritis dan bertanggung jawab. Kecakapan teknologi penting dimiliki, tetapi tidak boleh menggeser misi utama pendidikan Islam, yaitu membentuk manusia yang berilmu sekaligus beradab.

Hal ini yang menjadikan alasankuat, bahwa Guru PAI memegang peran yang semakin strategis. Ia bukan sekadar penyampai materi akidah, fikih atau sejarah Islam, melainkan pembimbing yang membantu peserta didik menavigasi kehidupan di tengah derasnya arus informasi. Ketika ruang digital dipenuhi berbagai pandangan keagamaan yang belum tentu benar, Guru PAI hadir untuk menumbuhkan sikap tabayun, berpikir kritis dan menghargai perbedaan. Ketika AI menawarkan kemudahan yang dapat menggoda peserta didik untuk memilih jalan pintas, Guru PAI menanamkan nilai amanah, kejujuran dan tanggung jawab. Peran-peran inilah yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Pada akhirnya, perkembangan AI tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan sebagai pengingat bahwa hakikat pendidikan tidak pernah berubah. Teknologi dapat mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan proses memanusiakan manusia. Selama pendidikan masih bertujuan membentuk karakter, menanamkan nilai dan membimbing manusia menemukan makna hidup, kehadiran pendidik akan tetap menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan.

Mungkin suatu hari nanti AI mampu menjelaskan seluruh isi buku pelajaran hanya dalam hitungan detik. Bahkan mungkin ia dapat menjawab hampir semua pertanyaan peserta didik dengan lebih cepat daripada gurunya. Namun, pendidikan tidak pernah lahir hanya dari jawaban yang benar. Pendidikan tumbuh melalui keteladanan, dialog, kepedulian dan sentuhan kemanusiaan yang tidak dapat diprogram ke dalam mesin.

Karena itu, ketika AI semakin cerdas, Guru PAI tidak perlu merasa tersaingi. Yang dibutuhkan bukanlah berlomba dengan teknologi, melainkan menghadirkan nilai yang tidak pernah dimiliki teknologi. AI dapat mengajari peserta didik menemukan jawaban, tetapi Guru PAI membimbing mereka menemukan arah.

Pos terkait