Oleh Delista Pakpahan Pengurus Himpunan Mahasiswa Hukum (Himakum) 2025 Universitas Pamulang Kampus Serang
OPINI, (gerbangbanten.com) – Sejarah Indonesia tidak bisa terlepas dari peristiwa kongres pemuda 1 dan kongres pemuda 2. Keduanya memiliki peran penting dalam mempersatukan golongan muda dari berbagai latar belakang di nusantara kala itu. Dalam sejarah kongres pemuda 1 & 2 terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang sangat membekas.
Pada kalanya kongres tidak hanya dimanfaatkan sebagai ajang diskusi untuk nasib Indonesia kedepannya. Kongres juga digunakan sebagai kegiatan untuk bertukar pandangan dan mempererat tali persaudaraan.
Mengenal sejarah kongres pemuda berarti juga sedang berupaya mengenal Indonesia masa lampau.
Kita memperingati hari sumpah pemuda setiap tahun pada tanggal 28 oktober 1928, Saat peringatan sumpah pemuda pakaian khas daerah masing-masing berbaris di lapangan sekolah dengan gagah dan penuh semangat… namun sumpah pemuda hanya dalam ucapan tidak sebanding dengan aplikasi di kehidupan nyata.
Globalisasi dan modernisasi mempermudah budaya dan Bahasa masuk kedalam suatu negara begitu dengan Indonesia , saat ini budaya yang sedang tersebar yaitu Korean wave remaja sangat mempengaruhi Bahasa serta budaya korea sehingga sapaan annyeong sudah menjadi kebiasaan tersendiri di bandingkan selamat pagi, atau haii…
Lalu bagaimana dengan budaya dan Bahasa di Indonesia?? Terlupakan?
Dengan melihat perjuangan pemuda pada zaman dahulu sebagaimana kita ketahui gagasan penyelenggaraan kongres pemuda kedua berasal dari perhimpunan pelajar pelajar indeonesia (PPPI) sementara pemuda zaman sekarang malas dan malu mempelajari budaya Indonesia yang menggunakan Bahasa Indonesia di campur dengan inggris maupun Bahasa korea seperti promosi kamus aneka ragam Bahasa.
Begitu dengan kehidupan nyata dalam pergaulan masa kini, jika menggunakan bahasa yang tetap dan sesuai aturan EYD, bukan kagum yang di terima melainkan di anggap kuno dan ga gau. Jadi keadaanlah yang mendorong pemuda melupakan jati diri Bahasa persatuan Indonesia, dan mirisnya ingin di akui dalam pergaulan dengan sesama pemuda Indonesia tapi melupakan Bahasa Indonesia.
Bukankah didalam sumpah pemuda, Bahasa pemersatu Adalah Bahasa Indonesia?
“kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng Bahasa persatuan Bahasa Indonesia”
Dengan demikian mari menjaga budaya, Bahasa serta semangat sumpah pemuda teruskan perjuangan sebagai motivasi untuk kemerdekaan Indonesia






