Serang (gerbangbanten.com) — Di bawah langit sore yang mulai berwarna jingga, suara klakson dan deru kendaraan di Jl. Jenderal Ahmad Yani, Serang, bersahutan seperti irama kota yang tak pernah tidur. Namun di salah satu sudut trotoar, di antara debu jalanan dan cahaya lampu yang temaram, ada pemandangan yang membuat langkah siapa pun terhenti sejenak, sekelompok anak kecil duduk bersila, menatap papan tulis kecil dengan semangat yang tak kalah dari ruang-ruang kelas di sekolah formal.
Mereka menyebutnya Sekolah Pinggir Jalan (SPJ), sebuah komunitas yang lahir dari kepedulian, tumbuh dari empati, dan bertahan dengan cinta. Setiap Senin dan Kamis, pukul lima sore hingga malam menjelang, trotoar di samping pos polisi itu berubah menjadi ruang belajar terbuka. Tak ada dinding, tak ada meja kayu, bahkan tempat mereka beralaskan terpal. Tapi di sanalah tawa, harapan, dan semangat belajar tumbuh dengan sederhana namun tulus.
“Kadang kita cuma pakai cahaya dari lampu jalan. Tapi anak-anak tetap datang, tetap semangat,” ujar salah satu relawan, sambil tersenyum menatap murid-murid kecilnya yang sibuk menyalin huruf di buku lusuh.
Anak-anak itu datang dengan pakaian seadanya. Ada yang masih mengenakan kaus sobek, ada yang membawa adik kecil di gendongan, ada pula yang baru selesai membantu orang tua berjualan. Tapi ketika relawan datang membawa spidol dan beberapa buku bekas, wajah mereka langsung berbinar. Seolah lupa bahwa mereka baru saja seharian berjuang di jalanan kota.
Tak ada kurikulum, tak ada nilai ujian, tak ada rapor. Yang ada hanya keinginan sederhana yaitu agar anak-anak ini bisa membaca, menulis, menghitung, dan mengenal dunia lebih luas dari sekadar trotoar tempat mereka tumbuh. Kadang pelajaran berubah jadi dongeng, kadang berubah jadi tanya jawab tentang cita-cita.
SPJ bukan lembaga resmi, bukan pula proyek CSR perusahaan. Mereka hanya sekumpulan orang yang menolak diam melihat ketimpangan. “Kami tidak ingin menggantikan peran negara, tapi nyatanya kalau kami tidak turun, siapa lagi?”
Pernyataan itu terasa berat seolah di balik kegiatan kecil ini, ada ironi besar yang tak bisa disembunyikan. Negara yang seharusnya hadir untuk mencerdaskan, justru kerap absen di tempat seperti ini. Program pendidikan gratis terdengar megah di podium, tapi tak sampai ke anak-anak yang bahkan tidak punya alamat tetap.
Di saat sebagian pejabat sibuk membicarakan kurikulum digital dan sekolah berbasis teknologi, di sini masih ada anak-anak yang belajar menulis di tanah, atau berbagi satu pensil berdua. Sementara pemerintah berdebat soal akreditasi dan reformasi sistem, masyarakat biasa diam-diam menambal lubang kegagalan itu dengan tenaga dan empati.
Menjelang malam, udara mulai dingin. Beberapa relawan mengeluarkan makanan ringan hasil urunan dari gaji mereka sendiri. Anak-anak berebut dengan tawa riang, bukan karena lapar, tapi karena merasa diperhatikan. Sebuah rasa yang mungkin jarang mereka dapatkan dari negara yang mengaku “peduli pendidikan”.
Ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, pelajaran pun usai. Anak-anak pamit satu per satu, menyalami relawan dengan tangan kecil yang kotor, tapi hangat. Lampu-lampu toko mulai padam, dan trotoar kembali menjadi trotoar. Namun bekas tawa, semangat, dan harapan itu masih menggantung di udara.
Sekolah Pinggir Jalan mungkin tampak kecil dan sederhana. Tapi di sanalah sesungguhnya makna pendidikan berdiri tegak, bukan di gedung megah, bukan di anggaran besar, melainkan di hati orang-orang yang percaya bahwa mencerdaskan bangsa tidak harus menunggu izin negara.
Dan mungkin, justru dari trotoar inilah, bangsa ini belajar satu hal penting yakni bahwa kegagalan negara tidak selalu berarti berakhirnya harapan, karena selama masih ada yang mau berbagi ilmu di pinggir jalan, Indonesia masih punya kesempatan untuk benar-benar menjadi cerdas.
Sekolah Pinggir Jalan: Ketika Trotoar Menjadi Ruang Kelas, dan Negara Hanya Jadi Penonton






